
Listrik prabayar kini menjadi pilihan banyak masyarakat karena dianggap lebih praktis dan transparan dalam mengontrol pengeluaran. Namun, masih banyak yang mengira bahwa token listrik bekerja sama seperti pulsa seluler. Padahal, cara perhitungan token listrik prabayar memiliki mekanisme yang berbeda dan dipengaruhi oleh beberapa komponen biaya. Agar tidak bingung, penting untuk memahami bagaimana sistem ini bekerja.
Apa Itu Token Listrik Prabayar?
Token listrik prabayar adalah sistem pembayaran listrik di mana pelanggan membeli sejumlah energi listrik terlebih dahulu dalam satuan kilowatt hour (kWh). Setelah pembelian, pelanggan akan menerima 20 digit angka token yang kemudian dimasukkan ke meteran listrik prabayar di rumah.
Berbeda dengan listrik pascabayar yang dibayar di akhir bulan berdasarkan pemakaian, listrik prabayar memberi keleluasaan kepada pengguna untuk mengatur konsumsi sesuai anggaran yang dimiliki.
Mengapa Token Listrik Tidak Sama dengan Pulsa Seluler?
Pulsa seluler bersifat langsung menambah saldo sesuai nominal yang dibeli. Jika membeli pulsa Rp50.000, maka nilai tersebut langsung masuk sebagai saldo utama (di luar pajak atau potongan kecil).
Sementara itu, token listrik tidak sepenuhnya dikonversi langsung menjadi kWh. Nominal yang dibayarkan akan dikurangi beberapa komponen biaya terlebih dahulu sebelum dikonversi menjadi energi listrik. Inilah alasan mengapa nilai kWh yang diterima bisa terasa “lebih kecil” dari perkiraan.
Komponen Biaya dalam Token Listrik
Sebelum menghitung jumlah kWh yang diperoleh, ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Pajak Penerangan Jalan (PPJ), besarannya berbeda di setiap daerah.
- Biaya administrasi dari bank, minimarket, atau platform digital.
- Tarif listrik per kWh, yang bergantung pada golongan daya listrik rumah.
Setelah semua potongan tersebut diperhitungkan, sisa dana barulah dikonversi menjadi kWh.
Cara Menghitung Token Listrik Prabayar
Secara sederhana, cara menghitung token listrik adalah sebagai berikut:
- Tentukan nominal pembelian token.
- Kurangi dengan biaya administrasi dan pajak.
- Sisa nominal dibagi dengan tarif listrik per kWh sesuai golongan daya.
Contohnya, jika membeli token Tuna55 Rp100.000, kemudian dipotong biaya administrasi dan pajak hingga tersisa Rp90.000, dan tarif listrik adalah Rp1.444 per kWh, maka listrik yang diperoleh sekitar 62 kWh.
Tips Agar Token Listrik Lebih Hemat
Agar penggunaan token listrik lebih efisien, ada beberapa tips yang bisa diterapkan, seperti menggunakan peralatan listrik berlabel hemat energi, mematikan perangkat saat tidak digunakan, serta memantau pemakaian listrik secara rutin melalui meteran prabayar.
Dengan memahami cara hitung token listrik prabayar, pengguna tidak hanya lebih bijak dalam mengelola pengeluaran, tetapi juga bisa mengontrol konsumsi energi secara lebih sadar dan bertanggung jawab.