You are currently viewing LaLiga Tegaskan Perang Melawan Pembajakan Digital di Media Sosial: Ancaman Serius bagi Industri Olahraga

LaLiga Tegaskan Perang Melawan Pembajakan Digital di Media Sosial: Ancaman Serius bagi Industri Olahraga

LaLiga kembali menegaskan sikap kerasnya dalam memerangi pembajakan konten digital yang kian marak, terutama melalui media sosial. Presiden LaLiga, Javier Tebas, menilai praktik tersebut bukan sekadar pelanggaran hak cipta, melainkan bentuk kejahatan terorganisir yang secara sistematis merusak industri olahraga.

Menurut Tebas, pembajakan digital tidak hanya menyebabkan kerugian finansial dalam skala besar, tetapi juga menimbulkan risiko serius terhadap keamanan siber para pengguna. Aktivitas ilegal ini dinilai mengancam keberlangsungan ekosistem sepak bola, mulai dari klub profesional hingga pengembangan sepak bola akar rumput.

Pembajakan digital menjadi fokus utama LaLiga karena dampaknya yang masif. Liga Spanyol itu memperkirakan kerugian akibat distribusi ilegal konten siaran mencapai sekitar €700 juta per musim. Kerugian tersebut berdampak langsung pada stabilitas finansial klub, ribuan lapangan kerja di industri olahraga, serta investasi jangka panjang untuk pembinaan pemain muda.

Sebagai respons, LaLiga mengklaim telah mengambil berbagai langkah proaktif, termasuk pemanfaatan teknologi pemantauan canggih, kampanye edukasi publik, hingga penindakan hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat. Tebas menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada komitmen penyedia infrastruktur digital untuk mencegah kejahatan.

Pembajakan juga merupakan masalah keamanan siber—mulai dari malware, penipuan, hingga pencurian kredensial. Teknologinya sudah tersedia untuk bertindak cepat tanpa mengorbankan kinerja maupun proses hukum, tulis Tebas melalui platform X. Pertanyaannya adalah apakah Anda merancang infrastruktur untuk mencegah kejahatan, atau justru memilih menutup mata.

Pembajakan Digital Dinilai sebagai Kejahatan Terorganisir

Tebas secara tegas menolak anggapan bahwa pembajakan digital dapat dibenarkan atas nama kebebasan berekspresi. Menurutnya, praktik tersebut merupakan kejahatan terorganisir yang merusak fondasi industri olahraga modern.

Ia menyoroti tiga isu utama yang kerap diabaikan dalam diskursus publik. Pertama, pembajakan sebagai ancaman keamanan siber karena sering disertai penyebaran malware, penipuan daring, dan pencurian data pribadi pengguna. Kedua, ketersediaan teknologi yang sebenarnya sudah memadai untuk mendeteksi dan memblokir konten ilegal secara cepat. Ketiga, persoalan persaingan tidak adil yang merugikan pemegang hak siar resmi.

Dalam konteks ini, Tebas juga melontarkan kritik terbuka kepada sejumlah pemimpin platform digital. Ia menilai perusahaan teknologi belum cukup agresif dalam menekan peredaran konten bajakan di platform mereka.

Beberapa nama besar ikut disorot, termasuk Elon Musk selaku pemilik X dan Matthew Prince, CEO Cloudflare. Menurut Tebas, sikap pasif atau lamban dari platform digital justru memberi ruang bagi jaringan tuna55 dalam pembajakan untuk terus berkembang.

Bagi LaLiga, perang melawan pembajakan digital bukan sekadar upaya melindungi pendapatan liga. Lebih dari itu, langkah ini dipandang sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga integritas industri olahraga, melindungi konsumen dari ancaman siber, serta memastikan keberlanjutan sepak bola di semua level.

Leave a Reply