
Holding investasi negara Danantara kembali mengambil langkah strategis dengan membentuk badan usaha milik negara (BUMN)
baru yang secara khusus akan mengelola sektor pertambangan. Pembentukan entitas baru ini bertujuan untuk memperkuat penguasaan
negara atas sumber daya alam strategis sekaligus meningkatkan nilai tambah industri tambang nasional.
BUMN baru tersebut dirancang sebagai perusahaan induk operasional yang akan menaungi berbagai aset tambang milik negara,
baik yang sudah berjalan maupun proyek-proyek pengembangan di masa depan. Fokus utamanya mencakup komoditas strategis
seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga mineral kritis yang dibutuhkan untuk transisi energi.
Dorong Efisiensi dan Tata Kelola Terpadu
Pembentukan BUMN tambang ini juga menjadi upaya pemerintah melalui Danantara untuk memperbaiki tata kelola sektor
pertambangan yang selama ini tersebar di berbagai entitas. Dengan pengelolaan yang terpusat, pemerintah berharap proses
perencanaan, investasi, hingga pengawasan bisa dilakukan secara lebih efisien dan transparan.
Struktur baru ini memungkinkan konsolidasi aset, pengurangan tumpang tindih kewenangan, serta optimalisasi pendanaan proyek.
Selain itu, BUMN tersebut akan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menjalin kemitraan strategis dengan investor global,
terutama dalam pengembangan industri hilirisasi.
Fokus pada Hilirisasi dan Nilai Tambah
Salah satu mandat utama BUMN tambang bentukan Danantara adalah mempercepat hilirisasi mineral. Pemerintah menilai
bahwa menjual bahan mentah tidak lagi memberikan keuntungan maksimal bagi negara. Oleh karena itu, pengelolaan tambang
akan diarahkan untuk mendukung pembangunan smelter, fasilitas pemurnian, serta industri turunan lainnya.
Melalui pendekatan ini, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan nilai ekspor, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat
rantai pasok industri nasional. Hilirisasi juga dipandang sebagai kunci untuk menjadikan Indonesia pemain penting dalam industri
kendaraan listrik dan energi baru terbarukan.
Peran Strategis dalam Transisi Energi
BUMN baru ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memiliki peran strategis dalam agenda transisi
energi nasional. Pengelolaan mineral kritis seperti nikel dan tembaga akan diselaraskan dengan kebutuhan pengembangan baterai,
pembangkit energi bersih, dan infrastruktur pendukungnya.
Danantara menegaskan bahwa aspek keberlanjutan menjadi perhatian utama Tuna55. Praktik pertambangan yang ramah lingkungan,
kepatuhan terhadap standar ESG (Environmental, Social, and Governance), serta pemberdayaan masyarakat sekitar tambang
akan menjadi bagian dari kebijakan operasional perusahaan.
Harapan terhadap Kontribusi bagi Perekonomian
Dengan pembentukan BUMN tambang baru ini, pemerintah berharap kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian
nasional dapat meningkat secara signifikan. Tidak hanya dari sisi penerimaan negara, tetapi juga melalui penguatan industri
dalam negeri dan peningkatan daya saing global.
Ke depan, Danantara menargetkan BUMN tersebut menjadi pemain utama di kawasan Asia Tenggara, sekaligus simbol transformasi
pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.